selamat datang

Signorina, between Austria and Italy, there is a section of the Alps called Semmering. It is an impossible steep, very high part of the mountains. They built a train track over these Alps to connect Viena and Venice. They build these tracks eveb before there was a train in existence that could make the trip/ They built it because they knew some day, the train would come. (Martini - in Under The Tuscany Sun)

21.12.07.

Kabut putih tebal sekali di luar pesawat, pasti dingin sekali di luar. Welcome to Zurich, kata saya dalam hati. Melewati passport control, saya agak deg-deg-an. Soalnya, semua back up document perjalanan ketinggalan gara-gara kemarin berangkat terburu-buru. Cuma ada passport doang. Duh, berdoa saja nggak ditanya macam-macam atau diminta menunjukkan supporting document.

Doa saya terjawab. Not in a nice way!! Tiba-tiba saja ibu-ibu tua di depan saya jatuh tergeletak. Entah kena stroke atau apa. Suasana jadi sedikit kacau, immigration officer terpaksa harus memanggil dokter. Selain itu juga, dia terpaksa harus membiarkan saya lewat tanpa banyak pertanyaan. Pfuiiihh.

Lain waktu, saya akan benar-benar hati-hati ketika berdoa. You never know when God really listen to you and become very generous about what you pray for.

Di luar Giu sudah jemput, lengkap dengan secangkir coffee latte. A kind of surprise, cuz sebelumnya dia bilang nggak bisa kabur dari kantor.

Setengah jam kemudian, di sinilah saya. Perfect first travelling page: kereta yang nyaman, hot caffe latte dan seorang cowok yang bawain koper saya. Hehehe. Swiss here I come!!!

                            

Croissant Coklat di pagi hari

I don't know, I think that if I could just accept the fact that my life is supposed to be difficult. You know, that's what to be expected, then I might not get so pissed-off about it and I'll just be glad when something nice happen (Jesse - on Before Sunrise)

21.12.07. 5.00 am.

Dubai International Airport ternyata ramai sekali. Ngga nyangka juga. Karena saya sampai putus asa cari tempat duduk buat ngopi. Mondar mandir dari ujung koridor ke koridor yang lain. Tetap nggak dapat tempat duduk. Terpaksa harus menjalankan trik klasik: spotting another sole traveller, and try if she/he wouldn’t mind sharing table. Korban saya pagi ini cowok yang keliatan serius dengerin ipod dan baca novel. Bukan pilihan yang buruk ternyata. Karena beberapa menit kemudian, dia nggak jadi serius lagi dan malah mengajak berbagi croissant coklat di piringnya plus beberapa menit ngalor ngidul tentang Swiss yang juga pernah dia kunjungi. Terimakasih. Terimakasih.

Have a great time in your holiday and make sure you don't miss Alpamare. It's just couple of minutes from Luzern, katanya pamit duluan. Saya melambaikan tangan. Agak sedih cuz nggak pakai acara tukar nama or email. hiks.

Travel again

"Wandering around our America has changed me more than I thought. I'm not me anymore. At least I'm not the same me I was. At least, not the same spiritual me." (Ernesto Guevara de la Serna - in The Motorcycle Diaries)
It was also the new me in every new place.  I'm looking for the new me in Luzern, Firenze, Pisa, Sienna, in the plane, in the train, in the snow.
I'm flying tonight. With some butterflies in my stomach. Don't really know what these butterflies are for.

Jalan Jalan Sedih

Bopeng belang bontengnya Jakarta sudah sering kita dengar. Tapi melihat sendiri sudah pasti memberi kesan yang berbeda. Minggu kemaren, ditemani Alim dan Pak Asep, saya pergi ke Cilincing . Pas di sampingnya pelabuhan Tanjung Priok. Niatan awal hanya mau survey sekolahan  untuk kegiatan Aku Beraksi – karena memang visi kita ingin membantu di bidang pendidikan. Tapi Pak Asep & Ibu ketua PKK setempat (aduuh siapa namanya saya lupa hehehe)- membawa kita lebih jauh melihat keadaan warga yang rumahnya habis terbakar.

What? Kebakaran di Cilincing… ngga pernah dengar tuh. Sama. Saya juga ngga pernah dengar. Karena saya jarang nonton TV , banyakan nonton DVD. Atau mungkin juga karena beritanya nggak banyak masuk TV. Atau masuk cuman seupil 30 detik. Ketilep sama gosip heboh Rahma Azhari vs Rouf Diah. Tapi dari yang ngga pernah dengar itu, tiba-tiba saya diajak untuk melihat. Tanpa dipaksa, saya sudah pengin nangis rasanya melihat kondisi tempat tinggal darurat warga yang sangat tidak layak dan sangat tidak sehat.

Kebakaran itu sendiri terjadi di malam lebaran Oktober lalu. Memusnahkan 500 rumah yang mengkover sekitar 4000 orang. Pada awal-awal kejadian memang banyak lembaga yang kasih bantuan dan membangun posko di tempat ini. Masuk dua bulan berselang, bantuan sudah menyurut. P. Bahayanya, masalah baru kini muncul: penyakit musim hujan. Sampai dengan saat ini, kebanyakan warga masih tinggal di tenda-tenda terpal. Sementara, kedatangan musim hujan bikin air menggenang dimana-mana, menjadi sarang nyamuk dan penyakit. Warga setempat sudah deg-deg-an dengan kemungkinan demam berdarah dan muntaber menyerang anak-anak mereka.

Gara-gara melihat kondisi darurat ini, kita melupakan sejenak rencana perbaikan sekolah. Kayaknya, kalau sekolahan dibagusin, tapi muridnya pada sakit semua juga nggak guna. Untungnya juga, setelah ngobrol-ngobrol, Pak Asep yang punya tim medis langsung tanggap dengan ide: Pengobatan Gratis dan Masal untuk Korban Kebakaran Cilincing. Dengan vaksinasi dan pengobatan gratis, penginnya kita bisa membantu mereka untuk survive menghadapi musim hujan. Karena dengan lingkungan sekitar serba ngga sehat, satu orang saja terjangkit akan dengan mudahnya nular ke semua.

Nah, kalo teman-teman ada yang mau ikut membantu, atau ikut berpartisipasi.. silahkan banget. Kegiatan ini sangat terbuka untuk siapa saja tanpa ada batasan ras, agama, kantor etc. Saat ini semua jenis bantuan masih sangat berguna: uang, pakaian bekas, makanan sehat (jangan indomie ya:p), susu, pembalut wanita.. semua pasti akan diterima dengan gembira.

Anyway, kalo mau ikut ulur tangan, tinggal kontak japri dengan nomor berikut deh.

Anggoro: 0813 17527 564 (Aang. Anggoro@unilever.com)

Sisca     : 0812 1015 757 ( Sisca.Sari@unilever.com)

Nuning  : 0815 9338 356 (nuning.wahyuningsih@unilever.com)

Dsc_0021_1 Dsc_0003

 

mampir lagi ah...

Lama nggak berkunjung ke rumah saya yang satu ini. Penyebabnya, rumah-rumah maya tiba-tiba menjamur. Konsekuensinya, undangan masuk ke sana ke mari jadi bertubi-tubi.

Yang pertama ada Xing.com. semacam friendster tapi khusus untuk dunia professional. Jadi kamu bisa networking dengan orang-orang yang bekerja di berbagai macam bidang. Di Indonesia belum sempat ngetop. Tapi di Eropa tampaknya lumayan tuh.

Belum juga tune in dengan Xing.com, ada lagi yang memperkenalkan saya dengan Shelfari.com. Konsepnya menarik sih. Jadi kayak lemari buku vitual. Kita bisa browse, teman kita koleksi bukunya apa aja. Lumayan buat contekan kalau mau kasih kado. Hehehe. Buat saya sendiri, hmmm.. saya suka beli buku tapi jarang baca.  Jadi gimana dong?

Nah yang terakhir nih lagi hot banget. Kamu semua pasti sudah tahu judulnya. Yap. Facebook.com. Konsepnya mirip-mirip friendster sih, Cuma jadi lebih fun dengan berbagai macam aplikasi lucu-lucu yang bisa main-main bareng teman. Tapi buat saya sih gitu-gitu aja. Lucu di masa-masa awal. Tapi lama-lama naluri narsis saya makin tergelitik.. kalo diterusin bisa makin menjadi-jadi. Hehehe. Dan lama-lama jadi bertanya.. what am I doing?

Tapi ya sudah lah. Masing-masing ada masanya sendiri-sendiri. Malam ini saya kangen saja sama friendster. Setelah sekian lama ngga ada update ke email saya.

Tsunami, Terrorist dan Sepeda

Tokyo_07_077

Ada yang menarik dari orang-orang Jepang yang saya temui di Tokyo. Setidaknya, saya menggolongkan ada dua kelompok: anti orang asing vs tukang ngobrol.

Kelompok yang pertama, begitu kita mendekat mau bertanya sesuatu mereka akan langsung angkat tangan atau pura-pura nggak dengar. Dicuekin deh kita. Biar nggak sakit hati, saya mencoba berbaik sangka. Mungkin dia nggak bisa bahasa Inggris jadi malas ngomong dengan orang asing.

Kelompok kedua, tukang ngobrol. Lucunya, kelompok ini nggak didominasi oleh orang-orang yang bisa bahasa Inggris. Biar kemampuan cas cis cus bahasa Inggris nol, mereka cuek aja melempar senyum dan bertanya ramah.. wesso wesso kokonorotomo ha? (a.k.a saya ngga tahu dia ngomong apa). Pertanyaan aneh pertama selalu saya jawab: Indonesia...yang serta merta akan disambut dengan wajah surprise: Indonesia ha? Sukarono, ha? Tsunami ? Ugh, mau protes rasanya. Ini bukan tahun 45! Masa sih cuma itu yang orang Jepang tahu tentang kita. Tapi ya, kenyataannya daru sekian banyak basa-basi singkat, dua kata itulah yang paling popular. Mereka nggak cukup updated dengan busway, Senayan City, Taman Safari ataupun Anggun.

Nah, obrolan biasanya jadi lebih menyebalkan kalo si tukang ngobrol bisa bahasa Inggris. Karena biasanya akan ditutup dengan pertanyaan generic: please don’t be angry, please. But is terrorist still living in Indonesia? Arrggghh….seketika saya mencoba menjadi duta bangsa yang baik, menjelaskan tentang orang Indonesia yang baik, ramah lagi tidak sombong. Hal ini juga yang akhirnya bikin saya lebih senang tersenyum lebar sama non-English speaking japanesse. Hehehe. Paling nggak, nama Sukarono membuat si Jepang acung jempol.

Pattern tidak konsisten ketika saya bersantai-santai di Tokyo Imperial Garden. Tiba-tiba ada bapak tua menghentikan langkahnya dan bertanya saya turis darimana. Indonesia, kata saya. Dari ngomongin terrorist, si bapak ini justru mengeluh soal keamanan dan ketidaknyamanan di Tokyo. Oh, no. Saya hampir nggak percaya mengingat kota ini sangat detail dalam merancang tata bangunan dan fasilitasnya: eskalator dan lift ada di mana-mana, segala sesuatu serba otomatis dan selalu ada kamera pengintai di area yang rawan kejahatan. Sayapun penasaran bertanya, apa yang membuat si bapak merasa tidak aman. Jawabnya: sepeda!!!. O la la. Dia merasa sepeda telah mengambil haknya sebagai pejalan kaki. Karena kelakuan pengguna sepeda terbilang nggak pakai aturan. Persis pengguna sepeda motor di sini!.

Ah, tapi percakapan-percakapan singkat itu bikin saya tersenyum geli. Paling nggak sekarang saya tahu persamaannya tsunami, terrorist dan sepeda :p.Betapa kontrasnya apa yang di sebut masalah di negara maju seperti Jepang vs negara miskin seperti Indonesia.

Welcome to Tokyo

Tokyo_07_099_2

Tokyo. Akhirnya sampai juga saya di negeri matahari terbit ini. Sesuai banget dengan namanya karena matahari sudah nongol jam setengah enam-an. Sudah terang benderang. Begitu juga orang-orangnya. Jam enam sudah ramai di stasiun. Sementara saya baru ngulet dan kucek-kucek mata.

Sebelum berangkat, saya sudah dapat training dari Gita, gimana jalan ke hotel, tempat-tempat yang musti dikunjungin dan tentunya yang ngga ketinggalan adalah tips ngirit (yang terakhir ini penting untuk low budget traveler seperti saya hehehe). Travel kali ini saya bener-bener mengatur semuanya dengan seksama. Ngga mau pengalaman nyasar dan bangkrut di Eropa terulang lagi. Jadi guide book Gitapun saya baca baik-baik.

Hasilnya?

Tidak sukses!!! Hahaha.

Feeling pertama nyampe di Tokyo adalah: pusing :p. Bayangin aja, Metro lines ada 12 line. Jadi kalo liatmap-nya.. duh, persis kue lapis pelangi.

Pusing kedua, sudah diduga… kendala bahasa. Susah sekali ngomong dengan orang jepang. Tapi paling ngga sekarang sudah belajar beberapa kata: coruso = cross, suturit = street, lunci = lunch.

Pusing ketiga, mesin tiket metro canggih sekali. Tombolnya banyak banget. Untung, berbeda dengan banyak Negara yang suka ambil keuntungan dari orang bego, Tokyo cukup jujur. Kalo tiket-nya kelebihan harga, tinggal masukin ke mesin fare adjustment dan voilaaa… duit sisa dibalikin. Makasih, makasih, makasih.

Pusing ke empat, hotelnya kecil banget boww. Harga kamar per malamnya sedikit lebih murah dari uang bulanan kos saya, tapi kamar kos saya masih jauh lebih gedean. Kamar ukuran 3x3 udah termasuk kamar mandi, lemari, tempat tidur. Ughhhh. Nyesel nggak diet dulu sebelum nyampe Tokyo. Tapi pas masuk, takjub juga. Semuanya sangat compact dan efisien. Lemari baju yang ukurannya Cuma 30 cm, ternyata didalamnya komplit: ada meja setrika, payung, paper bag, tea maker, sandal etc. Belum lagi kamar mandi. Biar dikata ukuran cuman 1 x 1.20 m, tapi toilet dan showernya keren. Banyak banget tombolnya. Lagi-lagi saya kegirangan main pencet2 tombol. Hahaha. Kampungannya kumat deh..

jakarta pagi ini

Hujan lagi hari ini

Mendung kelabu

hati membeku

Ingat mesin mobil yang mendadak henti

Bagaimana pulang nanti...

Hiks.. hiks.. begini masih harus kerja yah?

cerita hujan

Dulunya, bau hujan itu saya suka banget. Pas air mengguyur tanah kering, lalu baunya naik ke atas. Bikin hidung terasa hangat dan rileks. Tapi di Jakarta, mana bisa menikmati hal beginian. Alih-alih, saya jadi mual terlalu lama nyium bau pengharum ruangan mobil, gara-gara jalan macet ketika hujan. Kemudian, tanduk dan taring mulai muncul satu-satu melihat bajaj sembarangan senggol kanan-senggol kiri, tukang taksi yang keukeuh ngga mau ngalah dan berbagi jalan. Hidung bukan lagi terasa hangat. Tapi panas berasap mau ngamuk..!!.

Hingga di salah satu sore yang basah di minggu ini, flu berat bikin saya males nyetir. Dan nebeng membuat saya terdampar di emperan toko daerah Wijaya -- hukum nebeng yang cuma mengijinkan saya numpang sampai jalan yang searah dengan si empunya mobil. Cita-cita saya dapetin bajaj dengan cepat ngga  kunjung nyata, karena suara saya tenggelam di berisiknya air hujan plus klakson kendaraaan. Berdiri di emperan toko yang dingin dan basah bikin saya teringat si Siti, mobil saya. Nggak seharusnya saya marah-marah dan naik darah pas macet kehujanan, kalo kenyataannya di luaran ternyata jauh menguji kesabaran.

Belum selesai saya ngelantur, hujan menyiapkan sebuah kejutan. Suara ramah si mas penjaga toko, mengijinkan saya masuk ke dalam biar nggak kebasahan. Bukan cuma itu, dia juga menawari meminjami payung. Saya bilang terimakasih. Mau naik bajaj saja, kata saya. Dan masih bukan cuma itu kejutan hujan, si mas ini langsung jalan keluar menembus basah dan kembali dengan sebuah bajaj kosong beberapa kemudian. Saya ngga tahu harus bilang apa... tapi sejuta kata bersliweran di kepala.

Hidup ini jadi surga atau neraka, kita juga yang membuatnya. Masing-masing orang punya pilihan. Begitu juga saya. Ada dua pilihan extrem. Mengumpat  pada hujan yang telah membuat jalan macet dan flu saya makin parah. Atau berterimakasih pada hujan yang telah mengijinkan saya mempercayai lagi bahwa empati masih hidup di bumi jakarta ini dan masih ada orang-orang yang tetap menjaga ’surga’ untuk tetap ada.

the namesake

03p13namesakeNyambung posting sebelumnya…

Nah, beda lagi cerita tokoh fiktif Gogol Ganguli di buku pinjeman yang lagi saya baca (maaf ya Nyep kalo pinjemnya lama, gue bacanya pelan soalnya :p). Judulnya The Namesake, pengarangnya Jhumpa Lahiri.

Si mas Gogol ini adalah cowok keturunan imigran India di Amerika. Diberi nama demikian karena ayahnya adalah penggemar Nikolai Gogol si sastrawan Rusia. Percampuran dua budaya kuat India-Amerika menciptakan krisis identitas dalam diri si Gogol.

Kalo buat Scott nama tampaknya udah nggak penting lagi sebagai identitas diri, tapi buat si Gogol ini malah kebalikannya. Nama jadi penting untuk membantu menegaskan identitasnya. Sialnya, nama Gogol Ganguli bunyinya ngga India, ng gak juga Amerika. Hingga akhirnya Gogol berkeputusan untuk maju ke pengadilan, dan merubah namanya. Saat sang hakim bertanya 'mengapa'? Jawaban Gogol singkat saja,"Because I've always hate the name." Singkat cerita si Gogol jadi berubah nama.

Tapi apakah berganti nama akan membantu Gogol menemukan identitas dirinya dan menjembatani pertentangan budaya yang dia alami? Sayangnya saya belum sampai halaman akhir nih. Apa jadinya kalo Jhumpa Lahiri nemu blog-nya Scott sebelum nulis cerita ini ya? Bisa jadi Scott dan Gogol bertukar nama.

Kalo buat saya sendiri, masih nggak bisa bilang penting nggak pentingnya sebuah nama. Karena itu bukan satu-satunya sumber identitas buat saya. Sehingga saya pun jarang bertanya mengapa nama saya hanya satu suku kata, bukan beberapa seperti pada umumnya. Mungkin juga karena saya orang Jawa, jadi terlatih untuk berdamai dengan apa yang kita punya. Lagian saya bukan artis pula! :p